L'amour n'est pas parce que, mail malgré

Pagi tadi dalam sebuah pillow talk...

Entah gimana, obrolan bantal antara saya dengan seseorang tiba-tiba menjurus pada percakapan tentang cinta. Waduh! Dan tentu saja kutipan favorit saya terkait cinta adalah yang menjadi inspirasi judul tulisan ini. 

Diambil dari bahasa Perancis, kalimat ini kurang lebih berarti "cinta bukan karena, tapi walaupun". Sedikit njelimet, tapi cukup jleb. Jika selama ini, kamu mencintai seseorang karena hal menarik darinya (semisal: cakep atau pinter) bisakah kamu melakukannya tanpa alasan?


gambar dari Pinterest
Adalah sebuah pemandangan yang sangat biasa, ketika pria tampan bergandengan dengan perempuan cantik seperti digambarkan dalam dongeng sebelum tidur. Serasi! Bisa jadi komentar siapa pun yang menyaksikannya. Demikian juga, pasangan dengan profil wanita rupawan bersanding dengan lelaki "biasa aja" (istilah yang sering dipakai untuk menyamarkan kata jelek  -hahaha) masih dipandang sebagai sebuah kewajaran.

Tapi apa yang terjadi untuk kasus sebaliknya: cowok ngganteng macam Nicholas Saputra misalnya, menggandeng cewek dengan tampang jauh dari menarik (alias jelek, sekali lagi --hahaha) sebagai kekasihnya? Pada banyak kasus, seperti Elly Sugigi dengan sang suami, tentu bakal menuai kontroversi. Tuduhan materialis atau nebeng ketenaran, misalnya. 

Faktanya, kemarin saya berpapasan dengan sebuah keluarga kecil di sebuah mall. Pemandangan yang sangat biasa bukan? Menariknya, si suami yang menggendong buah hati mereka, balita cantik, memiliki tampilan ganteng. Sementara istri, pertumbuhan fisiknya di luar rata-rata. Iya, dengan tinggi badan hanya separuh si suami (tadinya saya kira mereka kakak beradik) dan mata yang hanya berfungsi sebelah tentu saja romansa mereka mengundang kekaguman di batin saya. 

Mungkin pengejawantahan kutipan Perancis yang saya pakai sebagai judul tulisan ini, masih sebatas fisik. Karena, sekali lagi di negeri dengan keindahan ragawi yang diagungkan rasanya perempuan dengan wujud tak menarik harus berpuas hati menyimpan dalam-dalam impian disunting pangeran tampan. 

Tapi cinta memang tak melulu soal raga. Tuntutan bahwa perempuan musti bisa bangun pagi, masak, beberes, rapi, bersih, dan banyak kesempurnaan lainnya juga patah begitu saja ketika saya menemukan kenyataan bahwa kakak lelaki sayalah yang jadi juru masak di rumah tangganya. Lelaki yang tetap mencintai perempuannya, walaupun tak rapi dan penuh keteledoran? Ada. 

Sudahkah kamu mencintainya walaupun dia bukan sosok sempurna yang memenuhi kriteria pasangan idaman versi kebanyakan?



Share on Google Plus

About Retno Wulandari

Cerdas, ceriaa, centil
    Blogger Comment

2 comments:

Timothy W Pawiro said...

dan berhenti sebentar untuk Google dulu 'Elly Sugigi' wkwkwk :D

nagacentil said...

Udah ketemu? =P