Salad Lokal Goes Global

Yang bakal saya hampiri duluan ketika sampai di meja buffet hotel pas acara makan malam biasanya sih salad bar. Berbagai spesies tanaman beserta bagian-bagiannya seperti melambai-lambai minta disantap. Kebiasaan ini barangkali berawal dari seringnya ibu saya menyajikan sayuran (dalam berbagai variasi sajian) untuk menu makan: dari sarapan sampai makan malam. Mungkin ini sebabnya sampai sekarang menggeser jarum timbangan ke kanan adalah hal tersulit buat saya hahaha *congkak*. Rasanya nggak perlu lagi kan disebutkan kenapa sayuran bisa bikin berat badan dan lingkar pinggang relatif stabil?

Nah, setiap kali menyantap salad seperti Greek Salad dari Yunani atau Som Tam asal Thailand, otak saya selalu berputar berandai-andai jika saja nama Indonesia juga berkibar-kibar di salad bar hotel kelas dunia. Kenapa nggak sih? Kita punya banyak banget jenis salad sayuran dan buah yang membanggakan dan layak jadi idaman lho. Bisakah mereka mendunia? 

Jelas bisa!

Nah coba sekarang kenali satu-per-satu aneka sajian berbahan dasar sayuran dan buah yang bisa dibilang salad lokal ini. 


Jukut dari Bali


Asinan Jakarta
Karedog dari Sunda

Enak-enak ya, mana di antara ketiganya yang jadi favorit kamu? 

Tapi tau nggak sih bahwa kekurangan masakan Indonesia itu cuma satu: tampilannya nggak cukup cantik buat jadi model instagram. Butuh trik khusus untuk membuat orang (asing) berselera mencobanya sejak tautan pandang pertama. Sementara urusan gizi, siapa yang bisa memungkiri kekayaan nutrisi dalam semangkok asinan sayur misalnya. Dengan sedikit modifikasi pada bumbu (misalnya mengganti cuka pabrikan dengan cuka alami atau asam Jawa) mungkin asinan bisa masuk daftar rekomendasi menu katering diet.

Dengan pengemasan yang lebih serius mustinya salad lokal ini bisa lebih goes global lho! Coba lihat ini ya...


Asinan Buah dalam cup

Urap Pegagan

Asinan In Jar
Asinan buah dalam cup mungil ini cukup tempting kalau disajikan sebagai appetizer di kafe kan? Begitu juga urap pegagan, tampil manis dalam petite cup sekali hap. Keduanya saya temukan di sebuah kafe dalam peluncuran buku sebagai upaya food diplomacy kuliner Indonesia. Sementara asinan in jar itu inisiatif saya sendiri dalam menikmati asinan buah favorit dengan cara yang kekinian nan elegan hahaha ... 

Keuntungannya lagi, salad lokal ini (seharusnya) lebih gampang dibuat dan relatif murah karena melimpahnya bahan. Gimana?  Sehat itu nggak mahal kan? 

Oh ya, selain misi menduniakan makanan-sehat-dari-negri-sendiri tulisan ini dibuat dengan tujuan menjadi salah satu dari sepuluh penjelajah gizi Nutrisi Untuk Bangsa. Cita-cita saya, kalau kesampaian mendarat di Minang tentu saja menggali sebanyak mungkin potensi menu bernutrisi dan tentu saja... mencicipi pical dari tanah asalnya! 



Share on Google Plus

About Retno Wulandari

Cerdas, ceriaa, centil
    Blogger Comment

0 comments: