SL Lounge: Beranda Di Jantung Jakarta

Jakarta, punya banyak pilihan tempat jajan: kakilima sampai fine dining resto. Mungkin jumlahnya mencapai jutaan, jika warung makan sekelas warteg masuk hitungan. Saya belum menemukan surveinya =D Yang jelas, sebagai penikmat makanan (meminjam istilah Laksmi Pamuntjak dalam Arunda dan Lidahnya: gourmet, bukan gourmand) petualangan kuliner selalu menjadi wisata tersendiri yang menyenangkan.

Adalah SL Lounge, tujuan petualangan jajan saya yang kali ini disambangi. Rejuvenasi dari resto St. Louis di Plaza Indonesia, selain bermigrasi resto ini juga bersalin nama menjadi SL Lounge yang bernuansa rumahan (bahasa kerennya homey!) ini menyasar warga kelas AB sebagai tamu tetap. Lokasinya di Jalan Teluk Betung memang bukan kawasan murah. Hanya berjarak sekian puluh langkah dari mall mewah di dekat Bunderan HI. 




Saya datang tak jauh dari tanggal buka resmi resto ini sehingga karangan bunga dan ucapan selamat masih menjadi penghias pintu masuk hehehe =D

Senada dengan banyak sekali resto sejenis di selatan Jakarta, SL Lounge memilih desain yang bernuansa sangat rumah: kursi yang tidak seragam salah satunya. Sehingga, saya bisa memilih mau duduk di sofa yang rileks atau meja makan ala aristokrat. Penataan ini nampaknya disengaja supaya siapa pun yang datang: keluarga atau pasangan, tetap bisa menikmati kebersamaan sambil menyantap beragam sajian.





Pencahayaan yang tak terlalu melimpah juga menambah kesyahduan, apalagi buat yang butuh menyepi ... 

Sajian di SL Lounge sendiri tidak terlalu spesifik, masih berkutat di Eropa dan Asia dengan pembagian sarapan, makan utama, dan penutup. Termasuk makanan khas Indonesia seperti soto mi yang digadang-gadang sebagai unggulan. Sayang perut saya keburu penuh sehingga nggak sempat menyicipi soto berkuah bening ini. 

Untuk "pemanasan" pasca hujan yang menyiram Jakarta, saya memilih mushroom soup. Tersaji dalam roti bulat, mushroom soup gurih dan hangat dalam sekejap memenuhi rongga abdomen saya. Lumayan mengenyangkan! Oya, untuk main course yang saya pesan malam itu adalah pasta aglio olio dengan campuran seafood dan bumbu pedas.



Dengan porsi, yang seperti biasa terlalu banyak buat lambung mungil saya hahaha, pasta dari kelompok penne ini mirip samudera Indonesia: biota laut dari jenis udang, cumi, serta ikan dan kerang yang melimpah ditambah cabai kering. Enak meski menurut saya masih kurang pedas. Mungkin menyesuaikan lidah ekspatriat yang sering mampir ya... 

Menutup santap malam, Crème brûlée tertata cantik dalam gelas kaca. Lembut-gurih campuran kuning telur dan susu dalam dessert asal Perancis ini terlindungi secara paripurna oleh lapisan tipis karamel yang legit dan garing pada permukaannya. Crème brûlée sendiri mengandung arti "krim gosong". 

  



Kenikmatan perut dengan komposisi mushroom soup-iced lychee tea-penne aglio olio-
Crème brûlée ini kurang lebih setara dengan dua lembar pecahan rupiah bernilai nominal tertinggi.  Ya bolehlah kalau buat meeting dengan klien (bisa di-reimburse hahaha!) atau kencan istimewa.





Share on Google Plus

About Retno Wulandari

Cerdas, ceriaa, centil
    Blogger Comment

0 comments: