Film Jalanan Yang Sarat Pelajaran

Kalau kamu Jakartans, dan mengandalkan kendaraan umum serta gak sungkan jalan kaki menyusuri kepadatan metropolitan, bisa jadi kamu akan sangat dekat dengan kehidupan yang dilukiskan di film Jalanan ini.


Dan saya beruntung, punya kesempatan menonton film yang jadi jawara di festival Busan ini hanya berselang dua hari penayangan perdananya bareng temen-temen relawan Akber Jakarta. Dengan kondisi bukan penggila film yang hobi memenuhi kursi bioskop ketika film terbaru ditayangkan (tipe yang males nonton sendirian!) tentunya ketika ajakan nobar ini dilemparkan saya langsung mengiyakan tanpa pikir panjang.



Jalanan, merekam kehidupan tiga pengamen jalanan: Ho si gimbal, Boni penikmat hidup dan Titi, ibu tiga anak yang berjuang sendirian. Meski berlabel film dokumenter, Jalanan jauh dari membosankan. Entah karena film ini bermuatan musikal, atau akting natural pemainnya yang kerap melontarkan quotes satir dan mengundang penonton terbahak atau bahkan spontan bertepuk tangan memberi applaus (dikiranya live show hahaha).

"Gue sih cinta Indonesia, tapi gak tau deh Indonesia cinta sama gue apa nggak", kata Ho yang punya nama asli Bambang, punya prinsip nikmati hari ini sehingga gak pernah ambil pusing dengan penghasilannya cukup atau nggak buat besok. Dan akhirnya melabuhkan hatinya pada Lela, janda cantik beranak tiga yang ditemui saat turun dari bajaj. Don't judge a book by its cover kayaknya pas buat Ho ini. Di balik tampang sangar dan slengean, Ho juga punya naluri kebapakan yang mudah tersentuh senum polos Tegar, bungsu dari Lela. Bandingin deh sama kasus "bayi lucu" yang dibuang calon bapak tirinya karena dianggap ngeganggu waktu berpacaran sama si ibuk... hih!

Boni, yang tinggal di kolong jembatan di kawasan Sudirman (kalo sering naik CommuterLine pasti tau lokasinya deh) menyulap "sarang"-nya menjadi istana senyaman Grand Hyatt. Meski pada akhirnya Boni harus terusir dari istananya karena pembenahan kolong jembatan untuk mengurangi banjir, Boni nggak lantas merasa dizalimi macam PKL atau warga penghuni tanah pemerintah yang ogah hengkang. Iyalah, Boni nyadar kalau yang dia tempati bukan haknya. Mustinya semangat Boni ini ditulari ke para PKL yang suka protes pas digusur ya hahaha... 

Titi, punya suara bagus dan terobsesi sama musik. Diceraikan suami karena kerjaannya membuat perempuan berdarah Jawa ini kerap malam, kebangetan juga sih suaminya (yang kerjanya masih serabutan itu). Lha selama ini duit ngamen istri 25% dialokasikan ke dia buat beli rokok dan makanan ikan, terus karena si istri nggak bisa jadi full time housewife lantas dipegat gitu? Ckckck...  Untungnya kisah Titi yang pantang menyerah ini berakhir dengan happy ending. Sempat putus sekolah, akhirnya Titi beres menggondol ijazah lewat Kejar Paket C demi pekerjaan yang lebih baik. Nggak mau ambil ijazah "nembak" karena haram (alhamdulillaah). 

Titi memang bukan ibu sempurna yang 100% waktunya ada di rumah, dekat sama anak. Tapi pengorbanannya mengumpulkan receh dengan segala risiko ngamen di Jakarta yang rawan pelecehan musti saya kasih dua jempol. Bandingin deh sama ibu-ibu lain yang tega "ngejual" anaknya buat menangguk uang lebih banyak, baik lewat persewaan maupun ngamen bareng. 

Mumpung Jalanan masih tayang, boleh kok kamu sempatkan luang sepulang kantor nanti. Dengan layar terbatas (setau saya cuma di Blok M Square, Senayan dan Grand Indonesia) rugi kalau akhirnya film bagus ini kelewat. Mudah-mudahan sih kelak Jalanan ini dibikin DVD-nya, untuk kemudian jadi tontonan bareng buat mengingatkan kita supaya selalu bersyukur dan tetap sensitif :)

#AkberNobar
foto by @dbrahmantyo




 
Share on Google Plus

About Retno Wulandari

Cerdas, ceriaa, centil
    Blogger Comment

4 comments:

kw said...

benar, bagi beberapa orang yang akrab dengan angkot dan kehidupan malam kelas bawah, film ini sangat dekat, dan tentu saja memukau bagi yang berjarak, apalagi orang asing.....

e-no: si nagacentil said...

Oh ya pas nonton ini ada beberapa bule yang antusias banget. Di barisan penonton lokal juga rame sih, sepanjang film ketawa dan tepuk tangan pas ada quotes bagus dari para casts hihihi

yomamen said...

Sayangnya film ini hanya tayang di 3 bioskop. Padahal lumayan menyegarkan dan beda dibanding film-film lain.

e-no: si nagacentil said...

@yomamen iya, terkait kebijakan komersial bioskop mungkin ya? Tapi menakjubkan Jalanan bisa bertahan nyaris sebulan lho!