Kumpul - Kumpul Luar Biasa

Ketika pertama kali mendengar ada aktivitas KumKum dari milis deBlogger, saya langsung menyatakan minat sepenuhnya buat berpartisipasi.  Meski tidak tercatat sebagai salah satu finalis lomba blog gaya hidup hijau, toh deretan acara yang disajikan sungguh membuat saya memasukkan KumKum sebagai agenda akhir pekan lalu.  Menarik, karena KumKum memang dirancang sebagai acara yang fully support gaya hidup hijau: dari pengisi acara, booth, sampai bagaimana menuju ke lokasi dijelaskan secara gamblang dan meminimalisir emisi dari kendaraan bermotor. 


Sesuai dengan anjuran, saya dan tiga orang teman menggapai Museum Bank Mandiri yang menjadi lokasi dengan kendaraan umum: TJ dan KRL.  Dari stasiun Kota yang antik itu, kita tinggal menyebrang melalui terowongan bawah tanah sehingga gak perlu khawatir bakal meleleh kepanasan karena suhu Jakarta yang membakar. Perbekalan kami, sekarung sampah kering dan barang bekas langsung didrop di booth khusus yang tersedia di luar Museum.   Senangnyaaa.. selama ini lihat tumpukan botol plastik dan kemasan produk lainnya menumpuk di rumah bikin sedih.  Kesannya kok jorok gitu, padahal kalau dibuang justru lebih jorok lagi.  Asiknya lagi, oleh Yasmin *yayasan yang menampung para sampah kering dan barang bekas ini* benda-benda yang kelihatannya gak berguna itu mereka salurkan untuk kepentingan pendidikan. 

Museum Bank Mandiri, yang belakangan sering jadi sorotan, dijaga dua "pria tampan" yang ramah.  Sakinng gantengnya, kami berebutan foto bareng.  Agak norak ya maaf hahaha...


Dengan tagline: untuk berbagi dan berbuat, KumKum yang dirancang seperti pesta rakyat ini memang mengaplikasikannya secara riil bagi para pengisi acara.  Contoh gamblangnya, tersedianya air minum dalam dispenser yang 100% gratis bagi pengunjung.  Dengan catatan: bawa botol minum sendiri.  Duh senangnya, mengingat kapasitas botol minum re-usable saya yang cuma 2x teguk, fasilitas ini betul-betul saya manfaatkan.  Stand penjual makanan dan minuman sendiri, dilarang keras memberikan material pengemas makanan berupa styrofoam dan plastik.  Senang lagi, karena biasanya dua material ini yang lazim dipakai.  Kesenangan saya bertambah (lagi dan lagi) ketika menemukan tempat sampah yang jumlahnya sangat banyak *untuk standar area publik yang biasanya minim fasilitas ini*.  Kerennya lagi, setiap kotak sampah dipilah menjadi empat kategori: sampah plastik, kertas, organik, dan yang gak bisa didaur ulang.  Puas bolak-balik...




Rangkaian booth di KumKum, didominasi oleh produk-produk olahan barang bekas.  Sebut saja, popok re-usable, payung dan aneka tas dari kemasan pouch sampai anyaman sachet kemasan kopi.  Keren banget hasilnya.  Industri kreatif Indonesia memang, mustinya, bisa mengungguli murahnya harga produk pabrikan Cina yang sempat jadi momok mengerikan bagi perdagangan bebas.  Tapi, saya kok gak khawatir kita gagal bersaing sama mereka.  Apalagi melihat kemasan pasta gigi bisa disulap jadi aneka tas cantik.... Produk bermerk Lumintu ini bukan cuma penyelamat lingkungan dari sampah alumunium foil, melainkan membantu para lansia mengisi sisa hidupnya. Kewl!  Seharusnya Greenpeace melihat kreativitas ini sehingga mereka gak menuduh Indonesia semata sebagai pembantai lahan gambut dan hutan.




KumKum, juga jadi arena notalgi masa kecil sebagian dari kita.  Permainan ular tangga raksasa dan buyung kapal *beda-beda setiap daerah namanya* dihadirkan khusus oleh teman-teman dari Komunitas 1001buku yang concern pada buku serta anak-anak.  Uhuk, pengen ikutan main tapi gak dikasih... T,T  *dikeplak*




Sementara bagi generasi yang satu atau dua dekade lebih di atas saya, mereka pasti bakal termehek-mehek karena bisa kembali icip-icip buah langka yang lebih dikenal sebagai kawasan elit Jakarta macam menteng dan kemang.  Sekeranjang buah lokal tersebut disajikan gratis bagi pengunjung.  Kalau tahu diri dan mengonsumsi cukup banyak, silakan menyumbang seikhlasnya di kotak yang tersedia ^_^.  Di salah satu booth, koleksi buah langka tersebut justru dijadikan tebakan berhadiah pin.  Agak kaget juga melihat cempedak dan markisa tergoleh lemah di antaranya.   Hah? Beneran udah langka ya? 


Puas bolak-balik booth dan menclok-menclok di perkenalan komunitas (dari komunitas Nawala yang menggawangi internet sehat, teman-teman yang bersahabat baik sama ular, sampai Nawala dan pakour unjuk gigi... chiiiz!), plus makan dengan piring kaca dan sendok *horeeee!* kami lalu pergi karena matahari mulai beranjak turun.  Sebelum pulang, saya sempat menenteng souvenir unik berupa peta TransJakarta dan KRL Jadebotabek yang multifungsi lhooo....  Bisa untuk scarf, penutup mulut bikers, bahkan apron dan serbet makan.  Lucu ya?




Gak nyesel berpanas-panas di jalan menuju KumKum.  Sungguh, saya berharap ada KumKumm lagi dalam enam bulan ke depan... *kedipin panitia*. 

Share on Google Plus

About Retno Wulandari

Cerdas, ceriaa, centil
    Blogger Comment

2 comments:

Anonymous said...

Informatif & seru banget ceritanya. Ikutan berbagi dong lewat kontes menulis kumkum, deadlinenya 30 April 2010. Info lengkap liat di sini bit.ly/kontes-menulis-kumkum

Didoain menang deh :-)

e-no: si nagacentil said...

@anonymous lhoo ada lagi ya? asiiik daptar ah