Kalung Pemulung


Ada pemandangan menarik yang beberapa kali, tidak bisa dibilang sering, saya temukan ketika berpapasan dengan pemulung. Profesi yang sempat digelari Laskar Mandiri di era orba itu, memang terlihat "rendah" dari sisi tampilan: kumal dan memunguti sampah yang nota bene adalah benda buangan tak terpakai. Tapi, jangan salah. Beberapa di antara mereka melengkapi anggota tubuhnya dengan aksesori berbahan dasar emas. Ya, emas yang saya sendiri, meski menyukai tampil gaya tapi tidak memiliki satu pun perhiasan emas (murni).

Dulu, saya pikir emas di leher dan telinga mereka berfungsi sama seperti saya mengenakan choker atau bangle: supaya terlihat sophisticated.  Pertemuan saya dengan seorang ibu rumah tangga pengelola sekolah pemulung di kawasan Bintaro, empat tahun lalu seketika  mengubah paradigma bodoh tersebut.


Alih-alih tampil gaya, emas bagi para pemulung adalah investasi. Senjata andalan ketika mereka diterpa musibah seperti sakit. Masuk akal, mengingat sebagian dari mereka bukan warga negara "resmi" yang diakui dinas kependudukan. Jangankan mengurus surat keterangan miskin demi selembar keringanan ketika berobat, memperoleh identitas resmi semacam KTP pun mereka berpikir dua kali. Tiga ratus ribu rupiah bukan angka yang kecil, karenanya ketimbang menghamburkan mengeluarkan sebanyak itu mereka lebih memilih status warga liar. Kalau pun, ketika terjadi force majeur macam sakit keras yang mengharuskan bertemu pihak medis atau bahkan sekedar membeli obat, satu per satu penghias tubuh mereka akan terlucuti berpindah tangan ke toko emas.

Saya, memang tidak belum menyimpan satu gram emas pun di lemari atau "gudang harta" saya. Tapi, setidaknya saya masih bisa mengandalkan asuransi atau sisa gaji di rekening untuk menebus konsultasi tenaga medis jika terpaksa. Dan sekali lagi, Tuhan menunjukkan kemahaadilan-Nya dengan memberikan imunitas berlebih bagi kaum yang sehari-hari bergelut dengan kawasan rawan kuman tersebut...
Share on Google Plus

About Retno Wulandari

Cerdas, ceriaa, centil
    Blogger Comment

8 comments:

si Rusa Bawean said...

itu kan kalungnya PHONDS

piazola said...

WHAT??!! pemulung itu pakai kalung ponds?? *kesimpulan yang aneh*

e-no: si nagacentil said...

hihihi...
mo pake kalung koleksi pribadi tapi ga ada yang emas, banyakan kalung batu2 yang ga laku diuangkan =P
kalung itu kan ada simbol hatinya, menandakan cinta... halah ada coba

muhammad iqbal taftazani said...

hmm cerita yang simpel, kadang ga diperhatiin tapi ternyata ada nilai yang tersimpan di dalamnya... *inspiratif*

duapuluhempatjanuari said...

kalo nggak salah, nilai emas tu nggak pernah turun ya?! investasi yang bagus buat "warga (yang sebenernya nggak) liar"

penutupnya bagus.. Tuhan Maha Adil

e-no: si nagacentil said...

@taftazani terima kasih, mudah-mudahan ada manfaatnya

e-no: si nagacentil said...

@duapuluhempatjanuari betul, dan buat mereka emas betul2 harta berharga sebab kita tau sendiri jaminan kesehatan buat orang miskin itu gak berfungsi dengan baik T.T

tikapinkhana said...

uhm nenek juga selalu menukar uang yg dikumpulinnya dengan emas setiap uang yang terkumpul sudah cukup, meskipun nenek bukan pemulung..tapi katanya emas 24 karat itu investasi yg lebih menguntungkan dibanding harus simpan uang di bank *entahlah*