embun

buat kebanyakan anak sekolah, upacara bendera saban senin pagi adalah ritual yang malesin. tapi, kitah ga punya pilihan untuk say no dan memilih parkir di kantin menikmati sepiring bakwan plus sambal katjang ekstra pedas di pagi senin. maka nikmati aja seremoni sepekan sekali itu sambil ngegosip ato ngecengin kelas seblah kalia...

salah satu alternatif hiuran gw mengisi kekosongan jiwa kala seremoni berlangsung adalah memelototi sekumpulan rumput yang berhabitat di taman pinggir lapangan sekolah gw, sebuah esempe favorit di jamannya. ada pemandangan luar biasa yang gw suka banget, yaitu butiran embun yang mengerubuni helai hijau berbentuk pita itu. ketika pagi, matahari mengirimkan energi cahaya untuk bumi. ketika tangan-tangannya menyentuh permukaan daun rumput yang masih basah itu, sebuah fenomena cantik bisa gw nikmati tanpa biaya.

apa sih istimewanya sebutir embun yang membiaskan sinar pagi?
gak spesial sih... selain biasan spektrum cahaya putihnya menjadi tujuh warna pelangi yang berkilau. mengingatkan gw pada sebuah crita di majalah anak2 bobo, tentang seorang putri super tajir yang menginginkan sebuah perhiasan dari butiran air. kejadiannya sendiri ga disengaja, putri lagi main2 di taman istana. pas tangannya menengadah ke air mancur, butiran airnya membentuk aksesori di tangan sang putri dan memantulkan kilauan tujuh warnanya dengan indah. yang membuat si putri jatuh hati dan menitahkan banyak perajin perhiasan untuk membuatnya jadi nyata, tapi ga satu pun yang sanggup memenuhi.

kadang2 emang gituya? sesuatu yang kita remehkan, yang baisa kita nikmati saban pagi justru menjadi benda mahal buat orang2 yang terbiasa bermandi materi. ibaratnya mo bli berlian 10karat juga mampu.

gw jadi cemas sendiri, kejadian embun di atas rumput di awal catatan ini adalah rutinitas dwipekan lebih satu dasawarsa lalu. apakah pemandangan cantik itu bisa teteup gw nikmati? sementara nyaris tiap pagi gw dikejar waktu, melupakan ritual kecil semacam say hi pada tetangga...
Share on Google Plus

About Retno Wulandari

Cerdas, ceriaa, centil